Tumor Usus: Kenali Penyebab, Gejala, Jenis, dan Kapan Harus Diperiksa

Tumor Usus: Kenali Penyebab, Gejala, Jenis, dan Kapan Harus Diperiksa

Mendengar istilah tumor usus tentu dapat membuat seseorang merasa cemas. Apalagi ketika muncul keluhan seperti perut sering sakit, perubahan pola buang air besar, atau terdapat darah pada feses. Banyak orang langsung menganggap tumor usus berarti kanker.

Padahal, tumor tidak selalu berarti kanker. Tumor merupakan pertumbuhan jaringan atau sel yang tidak normal. Sebagian dapat bersifat jinak, sedangkan sebagian lainnya dapat bersifat ganas atau kanker. Pada usus, pertumbuhan abnormal juga dapat berupa polip yang ditemukan pada lapisan dalam usus.

Memahami perbedaannya penting agar tidak langsung panik, tetapi juga tidak mengabaikan gejala yang perlu diperiksa.

Apa Itu Tumor Usus?

Istilah tumor usus dapat merujuk pada pertumbuhan abnormal yang terjadi di usus, terutama usus besar dan rektum. Pertumbuhan tersebut dapat berupa polip, tumor jinak, maupun tumor ganas.

Salah satu bentuk yang sering ditemukan adalah polip usus besar. Polip merupakan kumpulan sel yang tumbuh pada lapisan usus. Sebagian besar polip tidak berbahaya, tetapi beberapa jenis, seperti adenoma dan lesi serrated tertentu, dapat berkembang menjadi kanker kolorektal dari waktu ke waktu.

Karena itu, menemukan polip tidak otomatis berarti seseorang terkena kanker.

Apakah Tumor Usus Sama dengan Kanker Usus?

Tidak selalu.

Tumor jinak umumnya tidak memiliki kemampuan untuk menyebar ke organ lain. Sementara tumor ganas atau kanker dapat tumbuh secara invasif dan menyebar ke jaringan maupun organ lain.

Polip tertentu bahkan dapat ditemukan sebelum menjadi kanker. Inilah alasan pemeriksaan seperti kolonoskopi memiliki peran penting. Polip yang berpotensi menjadi kanker dapat ditemukan dan, pada banyak kasus, langsung diangkat sebelum berkembang lebih jauh.

Apa Penyebab Tumor Usus?

Tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan semua kasus tumor usus. Pertumbuhan abnormal dapat terjadi ketika proses pertumbuhan dan perbaikan sel di lapisan usus mengalami gangguan.

Pada sebagian orang, faktor genetik memiliki peran. Sementara itu, faktor usia, riwayat polip sebelumnya, riwayat keluarga dengan kanker kolorektal, merokok, berat badan berlebih, dan pola hidup tertentu juga dapat meningkatkan risiko pertumbuhan abnormal pada usus.

Beberapa penyakit radang usus kronis seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn juga dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal, terutama jika peradangan berlangsung dalam waktu lama.

Jenis Pertumbuhan yang Bisa Terjadi di Usus

Tidak semua pertumbuhan pada usus memiliki sifat yang sama.

Polip Jinak

Sebagian polip bersifat non-neoplastik dan umumnya tidak berubah menjadi kanker. Contohnya adalah polip hiperplastik tertentu.

Namun, dokter tetap perlu melihat jenis, ukuran, jumlah, dan lokasi polip untuk menentukan apakah diperlukan pemantauan lebih lanjut.

Polip Prakanker

Adenoma dan beberapa jenis polip serrated termasuk pertumbuhan yang dapat menjadi prakanker.

Risikonya tidak sama pada setiap polip. Ukuran, jenis jaringan, dan karakteristik sel dapat memengaruhi kemungkinan berubah menjadi kanker. Karena itu, polip yang ditemukan saat kolonoskopi biasanya diangkat dan diperiksa di laboratorium.

Kanker Usus Besar

Kanker usus besar atau kanker kolorektal terjadi ketika sel-sel abnormal tumbuh tanpa kendali. Banyak kanker usus besar bermula dari polip yang berkembang secara bertahap selama bertahun-tahun.

Gejala Tumor Usus yang Perlu Diperhatikan

Tumor atau polip kecil sering kali tidak menimbulkan gejala apa pun. Inilah alasan pemeriksaan skrining penting karena perubahan pada usus dapat ditemukan sebelum menimbulkan keluhan.

Jika pertumbuhannya sudah lebih besar, beberapa keluhan dapat muncul, seperti perubahan pola buang air besar, sembelit atau diare yang menetap, darah pada feses, lendir yang tidak biasa, nyeri atau kram perut, serta penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Perdarahan yang berlangsung perlahan juga dapat menyebabkan kekurangan zat besi dan membuat tubuh mudah lelah.

Namun, gejala-gejala tersebut tidak selalu berarti tumor atau kanker. Wasir, infeksi, sindrom iritasi usus, dan masalah pencernaan lainnya juga dapat menimbulkan keluhan serupa.

Apakah Darah pada Feses Selalu Menandakan Kanker?

Tidak.

Darah pada feses dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, termasuk wasir atau luka kecil pada anus. Namun, darah juga dapat berasal dari polip atau kanker pada usus.

Karena penyebabnya tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan warna atau jumlah darah, sebaiknya jangan mengabaikan perdarahan dari anus, terutama jika terjadi berulang atau disertai perubahan pola buang air besar dan penurunan berat badan.

Bagaimana Tumor Usus Didiagnosis?

Dokter akan mempertimbangkan gejala, usia, riwayat keluarga, dan faktor risiko sebelum menentukan pemeriksaan yang diperlukan.

Kolonoskopi merupakan salah satu pemeriksaan penting karena dokter dapat melihat bagian dalam usus besar secara langsung. Jika ditemukan polip, jaringan tersebut dapat diangkat atau diambil untuk diperiksa di laboratorium.

Pemeriksaan tinja dan pencitraan tertentu juga dapat digunakan sesuai kondisi pasien.

Apakah Tumor Usus Bisa Diobati?

Penanganannya bergantung pada jenis tumor, ukuran, lokasi, jumlah, dan hasil pemeriksaan jaringan.

Untuk polip tertentu, pengangkatan saat kolonoskopi dapat menjadi tindakan yang cukup. Bila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kanker, terapi akan disesuaikan dengan stadium dan karakteristik kanker. Pilihan dapat meliputi operasi, kemoterapi, terapi target, imunoterapi, atau terapi lainnya sesuai kebutuhan.

Karena itu, hasil pemeriksaan jaringan sangat penting untuk menentukan langkah berikutnya.

Cara Mengurangi Risiko Tumor dan Kanker Usus

Tidak semua tumor usus dapat dicegah, terutama yang dipengaruhi faktor genetik. Namun, beberapa kebiasaan dapat membantu menjaga kesehatan usus.

Mengonsumsi lebih banyak sayuran, buah, dan biji-bijian utuh, rutin melakukan aktivitas fisik, menjaga berat badan sehat, tidak merokok, serta membatasi konsumsi alkohol dapat membantu menurunkan risiko kanker kolorektal.

Yang tidak kalah penting adalah melakukan skrining sesuai usia dan faktor risiko. Skrining dapat menemukan polip sebelum berubah menjadi kanker.

Kapan Harus ke Dokter?

Jangan menunggu sampai keluhan menjadi berat untuk memeriksakan diri.

Sebaiknya konsultasikan dengan dokter jika mengalami darah pada feses, perubahan kebiasaan buang air besar yang menetap, nyeri perut berulang, penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas, atau tubuh mudah lelah tanpa sebab yang diketahui.

Orang yang memiliki riwayat keluarga dengan polip atau kanker kolorektal juga sebaiknya berdiskusi dengan dokter mengenai waktu dan jenis pemeriksaan yang sesuai.

Kesimpulan

Tumor usus tidak selalu berarti kanker. Pertumbuhan abnormal di usus dapat berupa polip jinak, polip prakanker, maupun tumor ganas. Sebagian polip bahkan tidak menimbulkan gejala dan baru ditemukan saat pemeriksaan.

Meski demikian, beberapa jenis polip dapat berkembang menjadi kanker jika tidak ditangani. Karena itu, darah pada feses, perubahan pola buang air besar, nyeri perut yang menetap, atau penurunan berat badan tanpa sebab sebaiknya tidak diabaikan.

Dengan pemeriksaan yang tepat, termasuk kolonoskopi bila diperlukan, pertumbuhan abnormal dapat ditemukan lebih awal dan polip yang berisiko dapat diangkat sebelum berkembang menjadi kanker.

Hubungi Kami